Selasa, 26 Maret 2013

Dra. ASMIDA, M. Pd; PENTINGNYA KREATIFITAS DIMULAI SEJAK USIA DINI


PENTINGNYA KREATIFITAS DIMULAI SEJAK USIA DINI

Oleh:
Dra. ASMIDA, M. Pd[1]

DSCF1890.JPGTulisan kali ini saya ingin mengangkat masalah kreatifitas atau berpikir kreatif. Sebelum melanjutkan tulisan yang sederhana ini saya ingin mengutip apa yang dikatakan oleh seorang lulusan S-2 Filsafat Universitas Indonesia dan juga anggota DPR-RI dari fraksi PDIP yaitu Rieke Diah Pitaloka (UI)[2], dalam menuju Jabar 1 beberapa waktu lalu, berikut penulis ambil beberapa penggalan pernyataan tentang pendidikan sebagai berikut:
 “Pendidikan harus mengedepankan nalar dan pengertian bukan hapalan sehingga muncul kreatifitas. Sejak orde baru makna pendidikan bergeser menjadi pengajaran. Pendidikan diartikulasikan sebagai pelajaran menghapal bukan melatih nalar. Pendidikan harus melahirkan generasi yang ingin tahu, ingin mengerti bukan generasi yang sekedar memanfaatkan apa yang ada[3]”.
Hal tersebut menurut penulis, dapat dimaknai bahwa kreatifitas tidaklah muncul begitu saja, kreatifitas adalah perjalanan panjang untuk keingintahuan dari pengembangan nalar dari berbagai kegiatan pembelajaran yang ditampilkan oleh pendidik,  kreatifitas harus dimulai sejak usia dini melalui pendidikan.
Pendidikan yang lebih mengedepankan peserta didik untuk mengekspresikan kemampuannya sesuai perkembangan kognitif yang dimiliki, melalui berbagai media pembelajaran yang disediakan untuk membiasakan anak sejak usia dini membentuk pola dalam pikiran mereka. Jadi suatu hal yang mustahil menurut penulis bila pendidik mengajak anak untuk kreatif sementara mereka tidak pernah diajarkan belajar cara bernalar. Anak-anak cendrung diajarkan menghapal dan meniru apa yang ditulis atau dikatakan pendidik. Kadang kadang pendidik (guru, orang tua) suka latah, menginginkan anak cepat pandai semuanya tapi kering dari makna pendidikan sebenarnya dan hal ini menurut pengamatan penulis terus berulang.
Baru-baru ini saat pantauan tentang penilaian Paud Inovatif di salah satu kecamatan di Pekanbaru, walau secara umum dapat dikatakan cukup baik. Namun dari hasil pengamatan maupun wawancara tidak terstruktur yang penulis lakukan, misal pengenalan lingkungan, guru secara umum tidak memaknai akan pentingnya kegiatan  yang dilakukakan tersebut sebagai wahana pembelajaran anak terhadap lingkungan tempat mereka berada. Kurangnya kemampuan profesional pendidik akan pentingnya kegiatan tersebut, menyebabkan kegiatan yang dilakukan terkesan asal jadi, hal tersebut  tergambar dari wawancara tidak terstruktur penulis dengan beberapa guru maupun pengelola paud misal saat guru pendamping membawa anak kekebun sayur yang tidak terlampau jauh dari Paud, atau ketempat rekreasi alam mayang, atau ke kantor polisi, atau memasak dan sebagainya.  
Kompetensi profesional pendidik, seperti yang telah penulis simpulkan pada tulisan terdahulu adalah kemampuan  profesional yang wajib dimiliki oleh pendidik, sehingga para pendidik mampu untuk terus meningkatkan kualitas diri dalam pekerjaannya,  yang pasti akan berimbas pada proses pembelajaran, dengan mampunya pendidik untuk mengembangkan potensi dirinya secara kreatif disebabkan penguasaan materi oleh pendidik menyebabkan ia mampu meramu pembelajaran sesuai dengan karakter peserta didik.[4]
Hal tersebut senada seperti yang diungkapkan Stephen P. Robbins dan Mary Coulter diterjemahkan oleh Harry Slamet, mengatakan bahwa:
kreatifitas merupakan kerangka pikiran. Lebih lanjut dinyatakan anda harus memperluas kemampuan-kemampuan pikiran anda artinya membuka pikiran anda terhadap ide-ide baru. Setiap orang mempunyai kemampuan untuk memperbaiki kreatifitasnya, tetapi banyak orang tidak mencoba mengembangkan kemampuan tersebut[5].

Pada dasarnya penulis sependapat dengan  Stephen P. Robbins dan Mary Coulter tersebut, namun dalam beberape hal seperti “…….banyak orang tidak mencoba  mengembangkan kemampuan tersebut”. penulis kurang sependapat. Sebenarnya menurut penulis bukan tidak adenye keinginan untuk mencoba mengembangkan diri tapi mereka secara umum tidak terbiasa  dalam proses pembelajarannya untuk mengembangkan nalar untuk mencube berbagai cara dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran yang disajikan oleh pendidik.
Merupakan kerja keras setiap lembaga pendidikan (sekolah) untuk membiasekan anak-anak dalam pembelajarannya untuk melatih nalar kalau ingin kedepan  kita mau anak-anak generasi penerus ini menjadi generasi yang terbiasa mengolah pikiran, sehingga diharapkan kelak saat mereka menjadi bahagian dari sistem masyarakat mereka mampu memunculkan dan memperbaiki kreatifitas karena sudah dilatih sejak usia dini melalui pendidikan terutama di sekolah dan ditambah lagi lingkungan dirumah, semuanya butuh proses dan tidak didapat secara instan.
Hal tersebut senada yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Utami Munandar yang menyatakan pentingnya memupuk kreatifitas sejak dini dalam diri anak didik sebagai berikut:
Kreatifitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam era pembangunan ini kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreatifitas, berupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru, dan teknologi baru. Untuk mencapai hal itu perlulah sikap, pemikiran, dan perilaku kreatif dipupuk sejak dini[6].

Dengan demikian kita berharap anak-anak  usia dini ini kelak bukan menjadi generasi yang hanya pandai menghabiskan yang ade dan tidak tau ape-ape lagi kalau sudah habis karena tidak terbiasa berpikir kreatif. Almarhumah mak penulis yang mulia Hj. Tengku Sribanun selalu mengingatkan sejak kami kecil bahwa “gunung emas akan habis bile ditakik terus”. Semakin besar dan mulai sekolah penulis menangkap perumpamaan tersebut mengandung makna yang tersirat antara lain sekaya apapun kita atau negara kalau sumber daya manusianya tidak bersumber daya tidak terbiasa berpikir kreatif semua akan tinggal kenangan.
Mudah-mudahan tulisan singkat ini menambah wawasan kita tentang pentingnya kreatifitas dimulai sejak usia dini.

Sekianlah
Pekanbaru, 6 Maret 2013 s.d 27 Maret 2013

Daftar Pustaka

Stephen P. Robbins dan Mary Coulter diterjemahkan oleh Harry Slamet, Manajemen
            Edisi kedelapan jilid 1, Indonesia: PT. Indeks, 2007.
Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat: Jakarta: Rineka
            Cipta, 2009.


[1] Biodata Singkat. Dra. ASMIDA, M. Pd adalah Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta; S-1 bidang Pendidikan Matematika, FKIP UNRI, 1988; S-2 bidang Pendidikan Matematika, UPI Bandung, 2009; Sekarang Bertugas Sebagai Staf Bidang Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru; Pemilik dan Pendiri L2PTS; Hobbi menulis cerpen dan dongeng dimulai sejak tinggal di Bandung, disedikit waktu senggang yang dimilki diantara kesibukan sebagai mahasiswa tugas belajar Magister Bidang Pendidikan Matematika di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kumpulan cerpen dengan cover “Sepetang Hatiku” dan beberape dongeng diantaranya “Kucing dan Harimau”, “Kancil dan anak Harimau”, “Pak Handi dan Mak Handi” sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com. Selain menulis cerpen dan dongeng, penulis juga menulis al: “Modul Integral Untuk Anak Paket C” sejak tahun 2009 akhir dan selesai tahun 2012, dimana modul ini  merupakan edisi revisi dari beberapa modul Matematika dan Integral yang ditulis sewaktu penulis masih menjadi pendidik, salah satu sub sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com dan http://learningcenterasmida.blogspot.com. Terbaru sejak tahun 2010 sampai tahun 2012, menulis buku untuk Kelompok Bermain Salah satu sub buku sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com/2012/06/dra-asmida-m-pd-matematika-sebagai-ilmu.html; Selain itu juga menulis artikel lepas, kumpulan artikel dengan cover “ Pekanbaru Menuju Kota 2 M?” sudah dipublikasikan secara terpisah di http://l2pts.blogspot.com; Hobbi lainnya al: fhotografi, menggambar abstrak, seni ukir, traveling, mendengarkan musik. Tahun 2013 aktifitas lainnya selain menulis cerpen, artikel lepas serta hobi lainnya, juga menulis materi tentang Irisan Bidang dengan Bangun Ruang, yang merupakan revisi dari modul sebelumnya, di publikasikan di  http://learningcenterasmida.blogspot.com.
 
[5] Stephen P. Robbins dan Mary Coulter diterjemahkan oleh Harry Slamet, Manajemen Edisi kedelapan jilid 1, (Indonesia: PT. Indeks, 2007), h. 414.
[6] Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat (Rineka Cipta, 2009), h. 31-32.

Minggu, 24 Maret 2013

Dra. ASMIDA, M. Pd; Cerpen:Lantak dielah


Cerpen:
Judul: Lantak dielah
Oleh:
Dra. ASMIDA, M. Pd[1]

Kau taukan aku tak pandai becakap kosong, disekeliling kite memang penuh orang muna kadang – kadang aku terlampau lugu, bukan kadang-kadang kau tu memang lugu dari dulu lagi, berape kali aku ingatkan hati-hati eehh….itulah aku sangke die kawan tapi ternyate die pecundang yah…orang semakin tamak. Aku jadi teringat yang diungkapkan Prof. Yufiarti dalam perkuliahan Filsafat beberape tahun lalu tentang  salah satu sifat manusia yang berperan dalam kehidupan seperti ketamakan.
Boleh dikatekan habislah modal aku, kate kawan-kawan die lari, ade yang nyakap ke daerah Jambi ade juge nyakap daerah Palembang entah mane yang betul, terakhir sekali die nganto bagi hasil keuntungan penjualan merica tu sekitar tahun 2003 kalau tak salah dekat bulan puase, mak masih ade waktu itu. Sudah tu lesap, dan kau tumpo dibuat die, marah ita panjang lebo dengan aku.
Semue aku jadikan pelajaran untuk lebih hati-hati…, sekarang ini aku boleh dikatekan tak ikut lagi kalau masalah macam tadi, keluo aje kalau tak penting-penting betul tak ade kadang-kadang kalau bisa diwakilkan aku tak pergi. Aku lebih banyak berkutat di Lentera yang merupekan lembaga tertinggi di lingkungan L2PTS yang menentukan arah kebijakan L2PTS baik ke dalam maupun keluar. Lentera singkatan ape tu, oh iye awak belum tau ye, itu singkatan dari Learning Center Asmida, ooo suailah tu…suai…ujar ita memuji sambil menganggukkan kepale. Banyak hal yang nak aku bereskan di L2PTS melaui Lentera ujarku pade ita sahabatku yang sudah menjadi Polwan sesuai cita-citanya tu yang kebetulan singgah ke tempatku. Betambah pendiamlah….kawan aku ni hehehe….memang aku pendiam? ujarku penasaran, macam mane ye, katekan pendiam… tidak pulak, payah nak mengungkapkannye bak kate Prof. Yufiarti,  filsafatnye tinggi.
Oh ye ini salah satu hasil Kelompok Belajar Usaha “Pucuk Rebung Berkaluk Pakis” dalam menjahit, ujarku saat ita terpaku menengok salah satu sulaman di dinding, selain itu ade juge usaha masakan tapi tak rutin sesuai pesanan, bahase kerennye usaha kateringlah ta.. eh maaf buk ita. Bangkitlah kau tu, akukan sekarang lagi tidak bertugas, siap ita hahaha serentak kami ketawe. Jadi ini bahagian dari L2PTS juge, eh tunggu..tunggu… cerite punye cerite sejak zaman bile awak tu ahli memasak setau aku keahlian awak tu masak air putih ujarku sebelum ita meneruskan ucapannye haha… dan satu lagi indomie waktu kite mahasiswa dulu itupun sekali sebulan hahaha…, kalau sekarang aku jamin kau tak pernah megang kompor lagi, hahaha….iye iye betul tu hahaha…sakit perut aku ketawe, kau tu ade aje, ini semue budak-budak tu yang mengejokannye kemenakan aku sekaligus sebagai pengelola.
Tibe-tibe….ita membuat aku menyeruak long term memoryku yang telah aku kubur dalam-dalam. Pemandangan itu masih membekas dalam ingatan diantara sedih dan gembira tak mampu kulukiskan dengan semua kata-kata. Terbayang sesosok wajah yang selalu mengisi hari sampai kejadian itu datang. Kau masih ingatkan due buah garis sejajar, itulah yang terjadi. Ujar aku saat ita tibe-tibe menanyekan seseorang yang aku malas mengingat name die lagi. Maksud awak kalian tidak bersame? kutarik napas pelan lalu kujawab dengan sedikit anggukan dan tersenyum sedih.
Sakit otak aku mikirkan kalian bedue ni, sekarang dimane die, ujar ita macam tak percaye. Aku tak tau, semenjak itu aku putus segala-galanya dengan die, kami dengan kehidupan masing-masing, engkau ni macam polisi aje nanye, oi lupe ke.. kawan engkau ni memang polisi, oh iye sorry buk polwan? aku lupe gurauku  abis awak pakai baju reman. Jadi mane die ujar ita masih penasaran, tak perasan aku ta, tak ngurus lagi de? lantak dielah.
Selesai
Pekanbaru, 16 Maret 2013 sd 24 Maret 2013.


[1] Biodata Singkat. Dra. ASMIDA, M. Pd adalah Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta; Pemilik dan Pendiri L2PTS; Sekarang Bertugas Sebagai Staf Bidang Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru; Hobbi menulis cerpen dan dongeng dimulai sejak tinggal di Bandung, disedikit waktu senggang yang dimilki diantara kesibukan sebagai mahasiswa tugas belajar Magister Bidang Pendidikan Matematika di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kumpulan cerpen dengan cover “Sepetang Hatiku” dan beberape dongeng diantaranya “Kucing dan Harimau”, “Kancil dan anak Harimau”, “Pak Handi dan Mak Handi” sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com. Selain menulis cerpen dan dongeng, penulis juga menulis al: “Modul Integral Untuk Anak Paket C” sejak tahun 2009 akhir dan selesai tahun 2012, dimana modul ini  merupakan edisi revisi dari beberapa modul Matematika dan Integral yang ditulis sewaktu penulis masih menjadi pendidik, salah satu sub sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com dan http://learningcenterasmida.blogspot.com. Terbaru sejak tahun 2010 sampai tahun 2012, menulis buku untuk Kelompok Bermain Salah satu sub buku sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com/2012/06/dra-asmida-m-pd-matematika-sebagai-ilmu.html; Selain itu juga menulis artikel lepas, kumpulan artikel dengan cover “ Pekanbaru Menuju Kota 2 M?” sudah dipublikasikan secara terpisah di http://l2pts.blogspot.com; Hobbi lainnya al: fhotografi, menggambar abstrak, seni ukir, traveling, mendengarkan musik. Tahun 2013 aktifitas lainnya selain menulis cerpen, artikel lepas serta hobi lainnya, juga menulis materi tentang Irisan Bidang dengan Bangun Ruang, yang merupakan revisi dari modul sebelumnya, di publikasikan di  http://learningcenterasmida.blogspot.com.

Kamis, 21 Februari 2013

Dra. ASMIDA, M. Pd; Cerpen:Pokoknya Paten lah


Cerpen:
Judul: Pokoknya Paten lah

Oleh:
Dra. ASMIDA, M. Pd[1]

Ternyata itu lambaian yang terakhir, jawabku saat ana bertanye sudah berape lame orang yang kucintai itu pergi,  Ya Allah…….kutarik nafas dalam dan melanjutkan cerite yang membuat hatiku luluh lantak hingge kini, pelan air mate mengalir tanpa mampu aku bendung. Ana mengusap usap pundakku memberi penguatan, saat kejadian itu ana yang merupekan satu dari due sahabat ku waktu itu sudah tinggal di Medan, die mendapat tugas disane, sedangkan Wida mendapat tugas ke Lampung.
Tak terase na, sudah dekat sepuluh tahun sejak die terakhir mengantar aku di pelabuhan Sungai Duku, waktu itu aku balek ke Bengkalis. Gile, ucap Ana seakan tak pecaye, itulah nasib tak jumpe kalau aku ingat tak beselesai sedih, padehal waktu itu aku berencana akan mengantar awak, eh…tibe-tibe perut aku bangkit sakit ujar ana menyesali. Oh ye Wida tau cerite ni, ujar ana menanyekan sahabat kami satu lagi, “tidak, die tidak tau, aku hanye beberape kali dapat menghubungi die, terakhir tige tahun lalu saat die masih di Lampung, hahhhh …tapi die tidak bisa dihubungi, udah beberape kali aku cube telp saat aku kesane saat ade dinas ke luar kota.
Aku berpikir positif aje mungkin die sibuk, kemudian saat sudah di Bengkalis aku telp lagi, waktu itu pembantu die ngangkat dan menyuruh aku tunggu saat aku kenalkan diri, menyebut name mau becakap dengan die, setelah menunggu beberape saat, tau tak jawaban yang aku dapat dari pembantunye, aduhhhh …..tak habis pike aku kalau ingat peristiwe itu “ibu widanya sudah berangkat ke Sulawesi bu”. Tak percayekan? ucapku sambil menengok ana terperangah, seakan tak yakin, atas sikap sahabat kami itu,  Itulah kenyataannye ucapku sambil mengusap keningku yang tak berkeringat.
Sudahlah, lepaskan semuenye tengoklah udah kurus kering macam ini, aku sampai tekejut tadi, kalau di telp bukan main gembiranye tau-tau… ucap ana menggelengkan kepale. Memang tak pernah berubah, tetap as yang dulu selalu tersenyum walau hati menangis, yang tak penyampai hati, suke menolong orang dan tidak pernah marah kecuali ade yang salah. Pujilah terus…ucap ku sebelum ana meneruskan pujiannye yang lain,  hei, udah, mimpi ape awak tu asik memuji aku.
Aku sekarang selain kegiatan rutin di kantor, juge lebih fokus kemasalah pendidikan, aku tak mau anak-anak Riau ini khususnye budak melayu tertinggal dalam bidang pendidikan, mereke harus membuke mate untuk kemajuan Riau kedepan, mereke harus mempunyai visi diri, ucapku panjang lebar sambil berjalan melihat beberape gambar pesawat dan kapal pesiar yang dibuat zaki saat bermain di learning center asmida.
Inilah dunieku na, L2PTS yang kucintai, masih banyak yang harus di benahi sulit mencari orang yang bisa dipercaye untuk pengelolaannya dan paham akan filosofi L2PTS, buat sementare beginilah dulu,  ana hanya terangguk angguk mendengar kuliah sambil jalan aku. Kalau yang ini, ujar ana menengok ke LPK menjahit boetiqe 2f yang sudah mulai didatangi oleh beberape warga yang mau belajar menjahit, ooo kalau itu memang sudah lame, cume name aje yang berganti beberape kali sekarang sudah punye izin operasional dari Dinas Pendidikan. Sudah ade sejak di tangkerang, waktu itu mak masih ade. Ye aku ingat kemenakan awak tu,….Iye itulah die, orang due beradik itulah kalau yang dipusat ni pengelolanye. Kalau aku manelah sempat na?
Kami masih meneruskan membahas berbagai permasalahan pendidikan, sementare diluar hujan lebat sudah mulai turun lagi,  oh iye awak cuti berape hari? Mak mengahalau nampaknye ujar ana seperti biasenye, masalahnye kami luse mau ke Tembilahan, semalam adek sepupu aku nelp katenye duku dah banyak yang masak datanglah sambil berehat kan dah lame tak balek.  
Rencana besok nak kesane, tapi tak jadi. Ngape ujar ana penasaran, semalam dokter yang menangani gigi aku sms, besok gigi sudah bisa di cabut, nantik pasang gigi baru pokoknya paten lah.”

Sekianlah
Pekanbaru 12 s.d 15 Februari 2013.



[1] Biodata Singkat. Dra. ASMIDA, M. Pd adalah Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta; Pemilik dan Pendiri L2PTS; Sekarang Bertugas Sebagai Staf Bidang Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru; Hobbi menulis cerpen dan dongeng dimulai sejak tinggal di Bandung, disedikit waktu senggang yang dimilki diantara kesibukan sebagai mahasiswa tugas belajar Magister Bidang Pendidikan Matematika di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kumpulan cerpen dengan cover “Sepetang Hatiku” dan beberape dongeng diantaranya “Kucing dan Harimau”, “Kancil dan anak Harimau”, “Pak Handi dan Mak Handi” sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com. Selain menulis cerpen dan dongeng, penulis juga menulis al: “Modul Integral Untuk Anak Paket C” sejak tahun 2009 akhir dan selesai tahun 2012, dimana modul ini  merupakan edisi revisi dari beberapa modul Matematika dan Integral yang ditulis sewaktu penulis masih menjadi pendidik, salah satu sub sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com dan http://learningcenterasmida.blogspot.com. Terbaru sejak tahun 2010 sampai tahun 2012, menulis buku untuk Kelompok Bermain Salah satu sub buku sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com/2012/06/dra-asmida-m-pd-matematika-sebagai-ilmu.html; Selain itu juga menulis artikel lepas, kumpulan artikel dengan cover “ Pekanbaru Menuju Kota 2 M?” sudah dipublikasikan secara terpisah di http://l2pts.blogspot.com; Hobbi lainnya al: fhotografi, menggambar abstrak, seni ukir, traveling, mendengarkan musik. Tahun 2013 aktifitas lainnya selain menulis cerpen, artikel lepas serta hobi lainnya, juga menulis materi tentang Irisan Bidang dengan Bangun Ruang, yang merupakan revisi dari modul sebelumnya, di publikasikan di  http://learningcenterasmida.blogspot.com.

Sabtu, 16 Februari 2013

Dra. ASMIDA, M. Pd; Beberapa penggunaan integral: Contoh dan pembahasan


 Beberapa penggunaan integral: Contoh dan pembahasan

Oleh:
Dra. ASMIDA, M. Pd[1]



[1] Biodata singkat: Dra. ASMIDA, M. Pd adalah Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta; Pemilik dan Pendiri L2PTS; Sekarang Bertugas Sebagai Staf Bidang Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru; Hobbi menulis cerpen dan dongeng dimulai sejak tinggal di Bandung, disedikit waktu senggang yang dimilki diantara kesibukan sebagai mahasiswa tugas belajar Magister Bidang Pendidikan Matematika di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kumpulan cerpen dengan cover “Sepetang Hatiku” dan beberape dongeng diantaranya “Kucing dan Harimau”, “Kancil dan anak Harimau”, “Pak Handi dan Mak Handi” sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com. Selain menulis cerpen dan dongeng, penulis juga menulis “Modul Integral Untuk Anak Paket C” sejak tahun 2009 akhir, dimana modul ini  merupakan edisi revisi dari beberapa modul Matematika dan Integral yang ditulis sewaktu penulis masih menjadi pendidik.  Terbaru sejak tahun 2010 sampai sekarang tahun 2012 masih tahap revisi akhir, menulis buku untuk Kelompok Bermain Salah satu sub buku sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com/2012/06/dra-asmida-m-pd-matematika-sebagai-ilmu.html; Selain itu juga menulis artikel lepas, kumpulan artikel dengan cover “ Pekanbaru Menuju Kota 2 M?” sudah dipublikasikan secara terpisah di http://l2pts.blogspot.com; Hobbi lainnya al: fhotogrefer, menggambar abstrak, seni ukir, traveling, mendengarkan musik.

Sabtu, 05 Januari 2013

Dra. ASMIDA, M. Pd; Cerpen Judul: Hanyelah Tumpukan PR Yang Belum Juge Tuntas


Cerpen[1]:
Judul: Hanyelah Tumpukan PR Yang Belum Juge Tuntas
Oleh:
Dra. ASMIDA, M. Pd[2]
Staf Bidang Pengembangan PLS Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru

Tanggal 31 Desember 2012 hari senin semakin redup seakan tidak mau pergi, padehal hari sudah semakin tinggi, suare mengaji sudah mulai terdengar dari Mesjid Nurul Yaqin yang tak berape jauh dari rumah menandekan sekejab lagi akan masuk saat sholat zuhur.
Th 2013 sebentar lagi akan menyapa, saatnya mengucapkan detik-detik perpisahan pade th 2012 dengan berbagai prediksi kiamatnye, akibat pergantian kalender maya yang sedikit sebanyak mempengaruhi keyakinan berbagai umat didunia tak peduli apepun agamanya.
Acara metro TV yang dari tadi aku ikuti memberitakan penyambutan tahun baru 2013 dibeberape kota seperti Bali, Jakarta dan Bandung, begitu pule berita lainnye seperti di Gorontalo yang banjir akibat hujan lebat sehingge terjadi luapan sungai (waduh..lupe pulak name sungainye).
Berita yang paling menarik ditengah hiruk pikuknye jalanan depan rumah, jelang tahun baru 2013 ini, dengan terompet yang telah mulai dibunyikan oleh penggune jalan, ternyate tahun baru merupekan perayaan paling tue, malahan gereja katolik tidak menyetujui namun karena sudah menyebar di beberape daerah, akhirnye menyetujui tanggal 1 Januari sebagai pergantian tahun, itulah kire-kire info yang saye simpulkan sedikit dari Metro Siang Metro TV, sayangnye hanye sekilas, mudah2xan nanti walau entah kapan Metro TV mengulasnye secara khusus.
Berita menarik lainnye dilibur diakhir tahun ini yang menarik bagi aku, tentang Tanaman Langka di Pasuruan Jawa Timur,  yang berumur ratusan tahun seperti yang diulas berita Trans TV bahwa tanaman langka tersebut berasal dari Australia dan harganya sampai ratusan juta, walau belum berape banyak pengunjung namun saye setuju dengan penyiar yang saye simpulkan bahwa tempat tersebut dapat dijadikan pembelajaran bagi anak-anak sekolah dimasa libur bersame orang tua atau keluarga terdekat khususnye untuk menambah pengalaman mereka mengenal berbagai jenis tanaman selain yang pernah mereka jumpai.
Aku beranjak keruang depan melihat keluar ternyata matahari belum menunjukkan wujudnya dengan jelas, sebentar lagi dalam hitungan jam, tahun 2013 menjelang, namun matahari tahun 2012 nampaknya pulas dalam tidur. Aku rebahan dan tertidur, hari sudah hampir malam, aku terjaga saat seorang rekan bisnis mengucapkan selamat tahun baru 2013.
Kini saat tahun baru 2013 mulai mendekati, bayangan seorang wajah menyeruak dalam labuk hati,  ade detak rindu yang tak mampu kutepis,  kejadian beberape hari lalu, membuat kacau akhir tahun 2012 yang seharusnye kulalui bersamenye, kubiarkan pikiranku menari entah kemane, sementare lagu separuh aku yang dibawekan Ariel Noah dengan jiwa menggambarkan lukaku.  
Kuhabiskan malam tahun baru dengan menonton berbagai acara hiburan sampai pagi, ditemani roti bakar yang dilapisi selai kacang serte minuman favoritku, kopi yang segelas tinggi. Dengan remote ditangan yang tiap saat kutekan, kalau boleh menjerit mungkin remote sudah tepekik telolong karena asik dikutak katik, sampai ade penyanyi bagus dan…wau Charlie dengan group barunye tampil memukau, keren….
Malam Tahun Baru Ini yang paling banyak kami tonton adalah siaran RCTI yang menampilkan penyanyi yang memukau, penyanyi kharismatik Ariel Noah mantan kekasih Luna Maya (aku tidak tau pasti mengape pasangan sejiwa ini berpisah), namun aku yakin lagu yang diciptakan Ariel Noah ditujukan pada Luna Maya, pasangan jiwanya.
Oh ya selain Ariel Noah penyanyi lain yang tak kalah menariknye seperti Nidji, rian dan Geisha group  penyanyi asal pekanbaru membuat kami semakin temenung didepan TV, hebat satu lagi anak Riau yang berjaya yang sempat terpantau selain Iyet Bustami, sebetulnye beberape waktu lalu ade group Sagu dari Selatpanjang khusus membawekan lagu melayu tapi sejenis slow rock begitulah, sekarang kurang eksis nampaknye.
Hari ini dihari pertame tahun baru 2013, aku tidak kemane-mane walaupun ade acara keluarge diluar kota aku tidak ikut, selain malas aku juge kesiangan hehehe…...,  begitu pule acara lain bersame beberape  kawan koncoplankin. Tapi memang aku sangat kelelahan setelah merampungkan beberape kegiatan inti akhir tahun 2012, begitu pule untuk mempersiapkan perencanaan kegiatan L2PTS melalui kelompok belajar usaha “pucuk rebung berkaluk pakis”  untuk melaksanakan kegiatan pelatihan menjahit khususnye untuk beberape warga belajar putus sekolah pade tahun 2013.
 Aku masih rebahan diruang depan, tidak ade inginku untuk keluar melihat matahari pertame ditahun 2013 yang masih enggan menunjukkan wajah sempurna, kendaraan pade nongkrong digarase baik si merah yang selalu menemaniku,  maupun sihitam besar.  Khususnye sihitam besar tidak pernah aku bawa sendiri, mungkin aku sedikit trauma membawa mobil apelagi kalau malam, aku kurang awas jangankan mobil, simerah aje aku ekstra waspada. Hampir 7 tahun aku tidak pernah menyetir mobil sejak kejadian tahun 2006 akhir dimana mobil pertamaku sikotak suzuki Karimun (sekarang sudah dijual, sewaktu aku tinggal di Bandung) menabrak pagar rumah yang sampai sekarang masih berbekas.
Jalanan depan rumah memang masih sepi, namun tidak sesepi berita tabrakan maut diawal tahun 2013, yang melibatkan putra bungsu menteri perekonomian  pak Hatta Rajasa, musibah memang tidak memandang siapepun dan dari kelas apepun. Tahun 2013 memang baru lahir, tapi berbagai kejadian yang menyertainye di belahan negeri Indonesia ini seperti banjir, masalah lalu lintas antara lain kecelakaan di jalan raya dan berbagai kejadian lainnye seperti pelecehan seksual dan berbagai masalah yang sangat meresahkan masyarakat hanyelah tumpukan PR yang belum juge tuntas.

Sekianlah
Pekanbaru, 31 Desember 2012 s.d 5 Januari 2013.





[1] Diinspirasi dari hiruk pikuk berakhirnye  tahun 2012 dan detik2x menjelang tahun baru 2013
[2] Dra. ASMIDA, M. Pd adalah Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta; Pemilik dan Pendiri L2PTS; Sekarang Bertugas Sebagai Staf Bidang Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru; Hobbi menulis cerpen dan dongeng dimulai sejak tinggal di Bandung, disedikit waktu senggang yang dimilki diantara kesibukan sebagai mahasiswa tugas belajar Magister Bidang Pendidikan Matematika di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kumpulan cerpen dengan cover “Sepetang Hatiku” dan beberape dongeng diantaranya “Kucing dan Harimau”, “Kancil dan anak Harimau”, “Pak Handi dan Mak Handi” sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com. Selain menulis cerpen dan dongeng, penulis juga menulis “Modul Integral Untuk Anak Paket C” sejak tahun 2009 akhir, dimana modul ini  merupakan edisi revisi dari beberapa modul Matematika dan Integral yang ditulis sewaktu penulis masih menjadi pendidik.  Terbaru sejak tahun 2010 sampai sekarang tahun 2012 masih tahap revisi akhir, menulis buku untuk Kelompok Bermain Salah satu sub buku sudah di publikasikan di http://l2pts.blogspot.com/2012/06/dra-asmida-m-pd-matematika-sebagai-ilmu.html; Selain itu juga menulis artikel lepas, kumpulan artikel dengan cover “ Pekanbaru Menuju Kota 2 M?” sudah dipublikasikan secara terpisah di http://l2pts.blogspot.com; Hobbi lainnya al: fhotogrefer, menggambar abstrak, seni ukir, traveling, mendengarkan musik.

Selasa, 25 Desember 2012

Dra. ASMIDA, M. Pd;Menghadapi Anak Autis Memasuki Masa Remaja: Sekilas Catatan di Seminar Autis


Menghadapi Anak Autis Memasuki Masa Remaja: Sekilas Catatan di Seminar Autis
Oleh: 
Dra. ASMIDA, M. Pd
Staf Bidang Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru.

Beberape catatan menarik saat penulis hadir untuk menggantikan Kepala Bidang Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, untuk memberi sambutan dan sekaligus membuka acara seminar Autis yang diadakan oleh Yayasan Insan Peduli Autis (YIPA), di hotel Akasia Pekanbaru tanggal 15 Desember 2012.  Saat memasuki ruangan tiba-tiba seorang anak yang penulis tebak ini pasti anak autis berjalan dan berdiri dihadapan penulis,  seperti biasanya penulis biasanya tersenyum, namun sianak hanya melihat penulis lame…..juga tersenyum menggerakkan badan dan mengeluarkan suare kira-kira aaaa….mmmm perlahan menggerakkan badan, matanya penulis lihat tidak fokus, dia tidak bergeming terus menatap padehal penulis akan melalui jalan tersebut untuk lewat.  
Entah mengape biasenye penulis akan memegang bahu anak sambil tangan kanan bersalaman dan sebagainye saat kegiatan lapangan ke lembaga kelompok bermain maupun saat acara baru-baru ini yaitu anak dengan kecacatan (adk). Namun saat itu penulis bingung agak beberape saat mau diapakan sianak autis tersebut, mau penulis sentuh seperti biasenye, sianak bisa aja mengamuk dan orang tuanya akan marah atau tersinggung, sebab menurut berbagai sumber maupun pengamatan langsung penulis terhadap teman yang anaknya autis secara umum mereka dengan dunianya sendiri dan menurut penulis memang benar adanya. Akhirnye setelah memandang dan tersenyum pada anak tersebut penulis berbelok berjalan menuju kursi yang telah disediakan didepan. 
Dengan berbagai pertimbangan, bukan tidak sayang, seperti yang penulis ungkap diakhir acara[1] pada beberape adik-adik mahasiswa dan beberape orang tue yang anaknye autis yang ikut dalam acara tersebut, walau pendapat tersebut agak berbeda dengan nara sumber yang kire-kire penulis simpulkan dari kejadian tersebut, kitelah  yang menguasai lingkungan sianak, yang dicontohkannya dengan mendorong salah seorang anak autis yang asik bergerak kemana-mana yang mulai sulit dikontrol salah satu sebabnya mungkin ruangan seminar yang semakin panas[2],  kekursi untuk duduk namun kejadian tersebut menurut pandangan penulis terulang lagi malahan pada contoh berikutnye karena sianak tidak mau juga diatur, setelah mendorong untuk duduk kembali kemudian dengan menatap mata sianak, nara sumber menanyakan apakah ia mau minum? Sianak tetap lengah dengan dunianya sendiri malahan duduknya sudah semakin kacau, terus diulang oleh nara sumber kemudian nara sumber menyimpulkan mungkin sianak haus, mau minum lalu iapun membukakan sebotol minuman kemasan dan memberikan pada anak autis dan sianak meminumnya, tapi nara sumber mungkin tidak melihat atau tidak menyangka bahwa sianak akan menyemburkan kembali air yang dipaksa untuk diminum tadi ke bahagian tubuhnya sendiri dan kesekitarnye hingga pakaiannya basah. Mungkin nara sumber lupa bahwa anak autis senang dengan air, seperti yang diungkapkan dalam http://forum.kompas.com/medis/15097-penanganan-dini-bagi-anak-autis.html diakses 14 des 2012 tentang anak autis menyatakan bahwa penyandang juga suka bermain air.
Menghadapi anak autis memasuki masa remaja, menurut penulis adalah hal yang sangat menghawatirkan, maaf bicara sedangkan menghadapi anak biasa yang tidak autis saje pendidik dirumah khususnye sangat kerepotan, begitu pule pendidik disekolah atau lingkungan, karena pada masa-masa gejolak ini secara umum anak-anak sangat sulit melaluinya (penulis yakin kite semue hampir pernah mengalaminye), dalam tahap mencari identitas diri tersebut berbagai tingkah polah yang dulu mungkin saja tidak ditemui orang tua akan muncul, namun dengan komunikasi dari berbagai pihak terutama ketegasan pendidik dirumah (orang tua khususnya) dan tujuk ajar semase anak masih diusia dini sampai beranjak remaja serta adanya tokoh idola yang baik, ditambah pendidik disekolah yang bukan hanye mengajar tapi juge mengarahkan sebatas kemampuan pendidik disekolah, biasanya menurut pengamatan penulis sianak sesuai dengan perkembangan pemikirannya akan mampu secara perlahan menyaring akan baik buruk yang ia lakukan.
Pertanyaannya bagaimana dengan anak autis? Kalau mau jujur, hal tersebut tidak mungkin berlaku untuk anak autis, dari beberape sumber dan pengamatan penulis menyimpulkan anak autis pada dasarnya anak yang hidup dengan dunianya sendiri, mereka tidak merespons secara khusus lingkungannya, sebagai contoh saat sianak autis yang penulis ceritekan diawal tadi, mengambil posisi duduk ditengah antara penulis (kalau tak salah) dengan pimpinan YIPA berbincang sesaat acara akan berlangsung, begitu pula saat penulis duduk sendiri dikursi panjang mendengarkan paparan nara sumber yang menanggapi berbagai kasus yang dihadapi orang tua peserta seminar maupun pendidik (guru SLB), sianak autis tadi juga sering duduk disamping penulis, kemudian pergi dan seterusnya[3].
Contoh lain beberape kali nara sumber merangkul salah satu anak autis yang berjalan-jalan didepan dekat nara sumber dan menyuruhnye duduk, tapi tetap terulang kembali, kemudian sianak menghapus yang ditulis oleh nara sumber dipapan tulis, setelah beberape saat nara sumber menulis kembali dan sianak autis tetap menghapusnye, walau sudah dirangkul maupun dipanggil oleh orang tua sianak supaya tidak menghapus tulisan[4]. Setelah bersih die akan pergi kedekat jendela tempat die duduk semula, melihat keluar dan mengeluarkan suara bergumam, semakin lame semakin keras nampaknya berlaku pade semue tingkatan. Namun ada juga anak autis yang suka menonton TV yang berbintik-bintik atau tidak ada sinyal hanya bunyi gemuruh[5].
Melihat kenyataan tersebut, penulis ingin mengatakan beberape hal sebagai bahan renungan:
1.    Buang rasa sedih yang berlebihan (setelah orang tue memastikan anaknye autis melalui tekhnologi kedokteran[6]). Menurut penulis dengan kesedihan yang berlarut-larut yang juge tidak akan dipahami oleh anak autis, lebih baik orang tue memfokuskan pade penanganan terpadu, apelagi anak autis yang tingkat tinggi seperti yang penulis kutip dari berbagai sumber menyatakan akan pentingnye  penanganan terpadu seperti dengan dokter spesialis anak, dokter spesialis saraf, dokter spesialis kesehatan jiwa, guru, juga berbagai terapis. Benar, kata salah seorang yang hadir pada acara seminar autis tersebut, saat kami berbincang diakhir acara, “memang butuh biaya besar”.

2.    Adakan tukar pikiran dengan orang tua yang anaknye juge autis, walau tidak akan menyelesaikan masalah, namun dapat sedikit menambah pengetahuan cara menghadapi anak autis yang terdiri dari berbagai tingkatan. Misal seperti yang diungkap oleh para peserta tentang perilaku anak autis dikeluarganya yang kira-kira berumur lima tahun, akhir-akhir ini sering menanggalkan celana dan menunjuk-nunjukkkan penisnya. Menurut penulis siapun orang tua akan sangat risau kejadian tersebut. Kalau sianak tidak autis, (biasanya kejadian kalau selesai mandi, dan orang tua lengah memakaikan celana maupun menselempangkan handuk dibadan sianak) saat orang tua atau pendidik menegur atau bilang “malu-malu …cepat pakai celana”, sianak akan menurut dan secara umum tidak akan mengulangi lagi malahan dia sendiri yang mengatakan “malu dan menutup penisnya dengan tangan”[7]. Kekhawatiran tersebut sangat beralasan, apalagi saat membayangkan bagaimana saat sianak autis remaja? Sementara dia tidak tau apa yang dilakukannya karena seperti yang diungkapkan dalam http://forum.kompas.com/medis/15097-penanganan-dini-bagi-anak-autis.html diakses 14 des 2012 menyatakan penyebab autis adalah sel otak tidak sempurna.

3.    Perilaku lingkungan khususnye orang tua, yang terlampau memanjakan anak dan sering menganggap anak tidak tau atau masih kecil sehingga tidak tegas memperlakukan anak dan berlarut saat di memasuki usia remaja mengucapakan kata-kata tanpa tau makna yang dikatakan. Misal salah satu contoh saat salah seorang tua menyampaikan keluh kesahnya karena anak antara lain sering mencarut mungkin meniru lingkungan, dia tidak tau lagi apa yang harus diucapkan untuk melarang anaknya, samar-samar terdengar si anak mencarut[8] walau sudah dilarang-larang tetap tidak berpengaruh.

4.    Pisahkan tidur orang tua dengan anak. Kalau penulis sederhanakan ucapan nara sumber, semakin kecil kita memisahkan tidur dengan anak semakin mudah kita mengawasi saat dia remaja, bisa saja anak autis terjaga dan meniru yang dilakukan orang tuanya.

Perlu koordinasi antara orang tua dengan tempat anak diterapi, hal ini untuk menghindari seperti yang dialami oleh salah seorang peserta yang kewalahan kalau dirumah anaknya sudah tidak patuh. Menurut penulis yang disimpulkan dari seminar mungkin orang tua tidak tega memperlakukan sianak yang dalam pikirannya lemah, tapi ingat suatu waktu sianak akan lebih kuat dan tidak bisa lagi dikendalikan perilakunya, dan orang tua semakin lemah apa yang akan terjadi? Pelajari kode-kode tertentu yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak, misal saat anak autis  melakukan masturbasi[9], bapak nara sumber memberikan tanda misal simbol kertas merah yang artinya hanya boleh dilakukan di kamar mandi, begitu pula simbol-simbol lain misal simbol, mana orang tua (ayah atau ibu), atau orang yang diluar lingkungan keluarga.

Dari berbagai kasus diatas menurut hemat penulis, yang paling penting dilakukan pendidik terutama orang tua adalah harus mengetahui tingkat autis anak, sehingga sedikit memudahkan penanganan respon terhadap terapi yang dilakukan selain itu juga sebagai antisipasi awal untuk memantau aktivitas si anak autis saat memasuki usia remaja yang pasti akan lebih sulit, walau sianak nampak tenang saat terapi tapi tidak merupakan jaminan anak tidak melawan[10], hal ini juga mengindikasikan tidak mungkin anak selamanya akan diterapi, kedekatan dan komunikasi orang tua atau orang terdekatlah yang sangat dibutuhkan.
Perlu dicatat bahwa melarang saat anak autis masih kecil memang sulit, tapi…akan sangat sangat entah pangkat berapa sulit, saat mereka memasuki usia remaja, ketegasan orang tua sangat dibutuhkan. Walau tidak menyembuhkan tapi sedikit mengurangi resiko hal yang tidak diinginkan dikemudian hari, ingat anak-anak seperti ini kadang – kadang lebih cepat masa puber dan adanya dorongan seksual, dan ini harus benar-benar dipahami oleh orang tua khususnya atau orang yang dekat dengan sianak autis misal kakak atau abang sehingga ada komunikasi yang dimengerti saat anak autis berubah perlakuannya dari biasa.

Sekianlah, mudah2xan bisa memberi manfaat.

Pekanbaru, 25 Desember 2012 s.d 26 Desember 2012.
Selamat Natal, 25 Desember 2012 dan Selamat menyambut Tahun Baru 2013.

  


[1]Karena tidak ada perkuliahan dan penasaran penanganan autis saat remaja, penulis tetap mengikuti sampai akhir acara yang  kira2x tak sampai jam 13.00 wib selesai.
[2] Listrik di hotel tempat acara mati kemudian hidup sesaat setelah itu mati selamanya, menyebabkan ruangan  panas  jangankan anak autis peserta dan penulis sendiri gerah luar biasa, selain itu paparan yang seharusnya bisa dilihat dislide tak bisa ditampilkan oleh nara sumber.
[3] Pengamatan penulis dengan anak autis yang beranjak remaja .
[4] Pengamatan penulis sianak autis yang satu ini suka papan yang bersih.
[5] Salah satu kasus dari orang tua peserta seminar.
[6] Secara umum orang tua yang hadir pada seminar telah melakukan hal tersebut, malahan ada yang berkonsultasi denganbeberapa dokter,  baik dokter di Pekanbaru maupun diluar Pekanbaru.
[7] Pengamatan penulis dengan kemenakan dan cucu dari kemenakan dari masa ke masa.
[8] Mengucapkan kata-kata kotor seperti pantek dan sebagainya.
[9] Salah satu contoh yang disampaikan nara sumber, yang menarik anak autis di salah satu daerah ke kamar mandi agar ia tenang. Contoh ini juga disampaikan oleh salah seorang peserta seminar.
[10] Salah satu kasus yang dipaparkan nara sumber, disuatu daerah anak autis terpaksa diperlakukan tidak wajar karena mereka sudah sampai pada tingkat yang sangat menghawatirkan, sianak sangat kuat.