Jumat, 11 Mei 2012

Dra. ASMIDA, M. Pd. Inovasi dalam manajemen pendidikan kaitannya dengan ujian nasional


Tugas Individu
INOVASI DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN  KAITANNYA DENGAN UJIAN NASIONAL


Mata Kuliah: Inovasi Dalam Manajemen Pendidikan
Dosen: Prof. Wibowo
Oleh:
ASMIDA
Nomor Registrasi: 7617101479



PROGRAM STUDI DOKTOR (S3)
MANAJEMEN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2012

INOVASI DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN  KAITANNYA DENGAN UJIAN NASIONAL

Oleh:
ASMIDA / Noreg. 7617101479/S3 MP UNJ
HP: 08127620849


A.  PENDAHULUAN

Menyikapi permasalahan Ujian Nasional yang tidak pakai habisnya ini saya tibe-tibe teringat suatu ungkapan yang kira-kira bunyinya seperti berikut “sedangkan kita menanam padi masih tumbuh ilalang apekah lagi kalau kite menanam ilalang tidak akan mungkin pernah tumbuh padi”. Gambaran perumpamaan tersebut penulis sampaikan dalam kaitannya dengan  kebijakan pemerintah yang tetap melaksanakan Ujian Nasional ditengah gonjang ganjingnya permasalahan yang menyangkut Ujian Nasional di masyarakat.
Permasalahan tersebut  antara lain yang penulis rangkum dari hasil pengamatan serta pendapat  beberape pakar dibidang pendidikan seperti adanya peserta didik yang bagus dalam proses belajarnya selama tiga tahun belajar disekolah ternyata tidak lulus sedangkan peserta didik yang hampir tidak pernah mengikuti proses belajar lulus. Dan ironisnya mereka (peserta didik) begitu bangga akan keberhasilannya telah lulus Ujian Nasional (UN), begitu pule dengan pengelola sekolah, guru, orang tua.
Menyikapi hal tersebut, timbul satu pertanyaan dari begitu banyak pertanyaan yang ingin disampaikan. Apa yang akan terjadi pada generasi  muda kita kelak sewaktu mereka menjadi bahagian dari sub sistem dari sistem masyarakat, sedangkan hal yang baik aja kite ajarkan pada peserta didik belum akan menjamin mereka akan tetap baik dalam konteks yang luas sewaktu mereka menjadi bahagian dari sistem di masyarakat.

B.  MANAJEMEN PENDIDIKAN SAAT INI

Fenomena diawal tulisan ini menggambarkan kurangnya kemampuan dan komitmen pemimpin (kepala sekolah) untuk mengedepankan mutu di lembag pendidikan (sekolah) yang dipimpinnya. Lembaga pendidikan secara umum adalah tempat peserta didik yang merupakan salah satu  subsistem dari sistem di lembaga pendidikan (sekolah) merancang masa depan mereka sendiri melalui perencanaan kegiatan-kegiatan yang ditetapkan oleh lembaga pendidikan (sekolah).
Melalui kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh elemen - elemen sekolah  khususnya pendidik (guru) dikelas, diharapkan mampu membuat peserta didik menggantungkan cita-citanya akan jadi apa mereka kelak dikemudian hari, jangan sampai semuenye dikacaukan dengan kebijakan Ujian Nasional yang salah kaprah.
http://l2pts.blogspot.com/2012/04/artikel-pendidikanberbasis-keunggulan.html diakses 6 Mei 2012 menyatakan akibat UN yang salah kaprah ini, kegiatan guru lebih focus menjejali peserta didik dengan materi pelajaran dengan cara menghapal atau meniru apa yang ditulis oleh pendidik (guru). Dan yang lebih merusak lagi, dan sudah merupakan rahasia umum berbagai cara dilakukan oleh sistem sekolah agar siswanya berhasil lulus Ujian Nasional. Dengan demikian sekolah mendapat pujian, kepala sekolah mendapat pujian pokoknya semua senang.

Selanjutnya masih dalam sumber yang sama Ujian nasional yang seharusnya dapat dijadikan umpan balik,  untuk melihat peta elemen dalam sistem internal sekolah, seperti kemampuan pemimpin (kepala sekolah), guru, siswa begitu pula sarana prasarana lainnya, tidak mampu dipantau oleh pemerintah. Itu yang penulis katakan diawal tulisan ini sebagai Ujian Nasional (UN) yang salah kaprah.
Hal senada seperti yang diungkapkan oleh http://edukasi.kompas.com/read/2012/05/02/19545888/Guru.Besar.ITB.Sebut.UN.Sesat Diakses 5 Mei 2012 Guru Besar Ilmu Matematika dari Institut Teknologi Bandung, Iwan Pranoto, menyebut ujian nasional yang dipraktikkan pemerintah saat ini adalah kebijakan yang keblinger.

C.  MANAJEMEN PENDIDIKAN DIHARAPKAN

http://inopend3.wordpress.com/2011/01/11/inovasi dalam-manajemen-pendidikan/ diakses 3 Mei 2012 Manajemen pendidikan ialah  proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri, serta bertanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan (Biro Perencanaan Depdikbud, 1993:4 ).

Hal senada dalam
http://www.taspen.com/files/humas/UUD%201945.pdf diakses tgl 5 Mei 2012 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Bab XIII yang mengatur tentang Pendidikan Dan Kebudayaan Pasal 31  ayat (3) menyatakan Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

 Namun kenyataannya Undang-Undang  yang bagus dalam tatanan konsep tersebut menurut penulis tidak mampu disikapi oleh lembaga pendidikan baik Formal, Non Formal maupun Informal. Sudah rahasia umum berbagai kepentingan yang menyebabkan tidak mampunya manajemen sekolah untuk bersikap konsisten menghiasi dunia pendidikan kita menambah semakin buramnya arah pendidikan di negeri ini.

Menurut penulis dibutuhkan keberanian pemimpin (kepala sekolah) untuk mengubah pola pikirnya sendiri dalam menyikapi kebijakan Ujian Nasional yang mau tidak mau harus dijalani.

D.  INOVASI MANAJEMEN PENDIDIKAN YANG DIPERLUKAN

Menurut Prof. Azis (http://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/inovasi pendidikan/diakses 15 januari 2012 ). Inovasi berarti mengintrodusir  suatu gagasan maupun teknologi baru, inovasi merupakan genus dari change yang berarti perubahan. Inovasi dapat berupa  ide, proses dan produk dalam berbagai bidang. Contoh bidangnya adalah : Managerial,   Teknologi, Kurikulum.
Selanjutnya http://l2pts.blogspot.com/2012/04/dra-asmida-m-pd-artikel-isu-isu-penting.html yang diakses 6 Mei 2012 menyatakan inovasi kemampuan seseorang untuk melakukan suatu penemuan (bukan penemuan yang benar-benar murni baru), tapi penemuan yang berawal atau terinspirasi dari penemuan sebelumnya sebagai landasan. Hasil konstruksi yang diperolehnya dapat dipergunakan dalam berbagai kegiatan misalnya: salah satu cara guru untuk menarik minat siswa didalam belajar geometri.
Kegiatan pembelajaran tersebut dikemas oleh guru dengan melakukan berbagai inovasi dalam proses pembelajarannya sehingga kegiatan pembelajarannya mencapai hasil yang diinginkan. Peserta didik terbiasa berpikir menyelesaikan berbagai masalah, bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan  dan sebagainya, diharapkan seiring dengan perjalanan waktu saat mereka menjadi bahagian dari sistem di masyarakat secara utuh, mereka mampu apapun profesinya di masyarakat kelak untuk menyikapi berbagai persoalan secara bijaksana.

Proses pencapaian inovasi  tersebut tidak didapat secara instan tapi  dari seorang pendidik (guru) yang mempunyai kemampuan tinggi dalam penguasaan materi pelajaran, kemudian ditambah  pengalaman serta kecintaan terhadap profesinya menyebabkan ia mampu meramu materi pelajaran sesuai dengan kemampuan peserta didik dan kondisi masyarakat tempat sekolah itu berada.

Dengan demikian keberhasilan peserta didik tidak bisa dilihat dari satu aspek hasil Ujian Nasional saja, walaupun sekarang sudah dimasukkan ujian sekolah namun hal tersebut bukan merupakan suatu solusi dari berbagai permasalaan yang ditimbulkan dilapangan. Jadi dibutuhkan inovasi dari manajemen sekolah kalau menginginkan kelak peserta didiknya menjadi orang pemikir bukan hanya pemakai.

 Hal senada seperti diungkapkan oleh  Guru Besar Ilmu Matematika dari Institut Teknologi Bandung, Iwan Pranoto  dalam http://edukasi.kompas.com/read/2012/05/02/19545888/Guru.Besar.ITB.Sebut.UN.Sesat Diakses 5 Mei 2012 Dia pun mengungkapkan hasil riset yang dilakukan Massachusetts Institute of Technology dengan Harvard University yang menyebut dua kemampuan yang wajib dimiliki manusia masa depan adalah berpikir kompleks dan komunikasi. 
Masih dalam sumber yang sama Guru Besar Ilmu Matematika dari Institut Teknologi Bandung tersebut menegaskan menurut penelitian tersebut berpikir kompleks adalah kemampuan memecahkan masalah yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Kesimpulan tersebut diambil barangkali karena ramalan bahwa permasalahan di masa mendatang bakal dinamis. Namun, yang dilakukan UN saat ini justru sebaliknya. Menurut Iwan, siswa hanya dipaksa menghafal tanpa diberi kesempatan menggunakan akalnya untuk memecahkan sendiri.





E.  KESIMPULAN

1.    Inovasi berarti mengintrodusir  suatu gagasan maupun teknologi baru, inovasi merupakan genus dari change yang berarti perubahan

2.    inovasi kemampuan seseorang untuk melakukan suatu penemuan (bukan penemuan yang benar-benar murni baru), tapi penemuan yang berawal atau terinspirasi dari penemuan sebelumnya sebagai landasan.
















DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar